Bukan, yang Anda Lakukan Sekarang ini Bukanlah Online Learning

oleh: Harijanto Tjahjono, EdD

Seiring dengan kebijakan SFH (Study From Home), para dosen di perguruan tinggi tidak memiliki pilihan lain selain mengganti cara mengajar mereka. Para dosen yang tadinya terbiasa berceramah dengan menggunakan slide powerpoint di kelas akhirnya dipaksa untuk berganti menjadi…. berceramah dengan menggunakan powerpoint juga, tapi tidak lagi di kelas, melainkan di depan laptop. Dengan menggunakan software teleconference seperti Zoom atau Skype,  mereka bisa mengajar murid-murid mereka secara jarak jauh. Dan mereka pun merasa sudah melakukan “Online Learning“.

Seiring dengan kebijakan WFH (Work from Home), pengurangan jam kerja, dan physical distancing, banyak perusahaan dan provider training juga tidak memiliki pilihan lain selain mengganti cara mereka melakukan pelatihan. Mereka pun membuka kelas-kelas melalui Zoom, dimana pembicaranya melakukan presentasi dengan menggunakan powerpoint, disusul dengan tanya jawab melalui kotak chat. Dan mereka pun merasa sudah melakukan “Online Learning“.

Memang kalau kita menggunakan pengertian yang umum (dan cukup luas) dari Online Learning, misalnya dari Khan (1997) yang mendefinisikan Online Learning sebagai “the delivery of instruction to a remote audience using the Web as an intermediary”, maka cara mengajar ceramah jarak jauh yang dilakukan oleh para dosen dan praktisi pelatihan itu bisa disebut sebagai “Online Learning“.

Tapi cobalah anda bertanya pada ahli Online Learning dan para Instructional Designers, (orang-orang yang pekerjaannya mendesain Online Learning), apakah metode pengajaran yang hanya menggunakan ceramah lewat teleconference itu bisa digolongkan sebagai Online Learning. Jawaban mereka kemungkinan besar adalah “Tidak”. Yang anda lakukan sekarang ini bukanlah Online Learning, melainkan Emergency Remote Teaching.

Mengapa Demikian? Steven Shisley (2020) menuliskan perbedaan-perbedaan yang lebih rinci antara Emergency Remote Teaching dan Online Learning. Berikut ini adalah ringkasan beberapa poin utama yang dikemukakan oleh Steven Shisley:

  Online Learning Emergency Remote Teaching
Penyampaian Pengajaran Moda Online memang sedari awal dimaksudkan sebagai moda utama penyampaian pengajaran Moda Online hanyalah dipilih karena situasi darurat yang terpaksa. Desain pengajaran sebetulnya untuk pertemuan tatap muka.
Persiapan Proses desain pengajaran membutuhkan waktu lama untuk analisa, persiapan dan pemikiran yang mendalam Proses konsolidasi yang instan dari materi pengajaran yang sebetulnya untuk kelas tatap muka, langsung diubah untuk pengajaran moda online. Transformasi instan ini biasanya melibatkan proses improvisasi materi supaya “masuk” ke moda online
Integrasi Teknologi Penggunaan teknologi yang didesain secara cermat untuk menghasilkan pengalaman yang engaging dan interaktif dari komunitas pembelajar Teknologi yang terbatas (dan dipaksakan) biasanya menghasilkan situasi interaksi dan engagement peserta yang kurang ideal
Pelatihan Pengajar Proses pelatihan pengajar direncanakan seksama. Pelatihan pengajar dilakukan berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan sebelumnya agar mereka trampil menggunakan semua online tools yang dibutuhkan untuk pengajaran Pengajar dipaksakan beradaptasi secara cepat untuk melakukan pengajaran moda online. Proses pelatihan pengajar berlangsung instan dan seadanya, yang seringkali menyebabkan situasi yang stressfull bagi para pengajar tersebut.
Struktur Pengajaran dilakukan menggunakan format/metode yang bermacam-macam karena adanya proses analisa dan desain yang mendalam Karena terbatasnya waktu maka seringkali terjadi pengulangan format/metode pengajaran.
Metode Pengajaran Pengajaran dilakukan sebagian besar secara asynchronous, dengan beberapa pertemuan synchronous Pengajaran sebagian besar atau semuanya dilakukan secara synchronous

Ringkasnya, Online Learning seharusnya lebih kaya dengan menggunakan metode online yang bernacam-ragam, melalui proses desain dan analisa yang lebih panjang, dan para pengajar sudah disiapkan jauh-jauh hari. Sebaliknya, Remote Teaching sekedar mengubah (memaksakan) materi pengajaran tatap muka untuk menjadi moda online, miskin metode (metode yang sama banyak diulang), dan tidak melalui proses desain dan analisa yang mendasar. Akibat dari pengulangan metode itu adalah munculnya para Zoombie (orang yang kebanyakan nge-zoom), kejenuhan, kurangnya keterlibatan peserta dll. Jadi jika muncul gejala-gejala di atas (anda sudah jadi Zoombie), maka ada kemungkinan itu pertanda anda adalah korban Remote Teaching.

Pembedaan antara Online Learning dan Remote Teaching ini juga akan nampak jika anda mencermati pengumuman-pengumuman yang diberikan oleh banyak universitas besar dunia sehubungan dengan pengajaran di masa karantina ini. Mereka juga lebih memilih untuk menggunakan istilah “Remote Teaching” atau “Remote Learning” dibanding “Online Learning” untuk menyebut apa yang dilakukan para pengajar saat ini. Di bawah ini adalah contoh salah satu pengumuman tersebut dari Harvard University (diambil dari https://www.harvard.edu/coronavirus/teach-remotely):

Will the real Online Learning please stand up?

Kita sudah menjalankan Remote Teaching ini selama beberapa bulan. Dan berdasar pemantauan saya ada banyak feedback negatif terhadap pengajaran jarak jauh ini, antara lain: tingginya kuota internet yang dipakai, rendahnya engagement (keterlibatan) peserta, kurangnya “human touch” dari metode pembelajaran jarak jauh ini, dan sulitnya mengajarkan beberapa matakuliah dengan metode jarak jauh ini, dan lain-lainnya. Tidak kurang Rektor Ubaya pun menuliskan tentang masalah-masalah kurangnya “intimacy” dan “human touch” tersebut (baca “Pandemi, E-learning dan Ilusi Teknologi” di rubrik opini Jawa Pos 18 Mei 2020).

Memang bahkan Online Learning (the real one, bukan Remote Teaching seperti yang saya tulis di atas) pun memiliki keterbatasan-keterbatasan. Ya, engagement dan human touch memang adalah dua isu yang  selalu sangat perlu diperhatikan dan ditingkatkan dalam Online Learning.

Tapi sebagai seseorang yang menggumuli masalah Online Learning saya ingin menggarisbawahi bahwa banyak masalah yang disebutkan di atas (rendahnya engagement dan human touch, serta sulitnya mengajarkan beberapa matakuliah tertentu dengan metode daring) sedikit banyak sebetulnya adalah masalah kegagalan membedakan antara Online Learning dan Remote Teaching, masalah desain pembelajaran yang miskin, dan kurangnya pemahaman akan Online Learning yang menyeluruh.

Jadi bagaimana seharusnya menjalankan Online Learning yang sesungguhnya?  Tulisan ini terlalu singkat untuk menguraikan semuanya secara detail, tapi secara garis besar ada beberapa ciri dasar yang perlu dikembangkan:

  • Pemahaman yang mendalam akan proses Instructional Design dari Online Learning (kerangka ADDIE atau SAM untuk analisa dan desain, teori experiential learning, constructivism, dan lain-lain)
  • Proses analisa yang mendalam terhadap kebutuhan pembelajaran, yang kemudian dilanjutkan dengan proses desain dan perumusan tujuan instruksional yang berdasarkan kebutuhan pembelajaran tersebut.
  • Pemahaman akan kekayaan dan keberagaman Online Tools yang ada, yang menghasilkan penggunaan tool yang tepat untuk tujuan instruksional tertentu (misalnya: kapan menggunakan Forum Diskusi, blog, video, teleconference, Wiki, Podcast, dll). Sehingga kita tidak jatuh ke penggunaan metode yang miskin dan dipaksakan.

Jadi apa yang perlu kita lakukan ke depan? Mari berpindah dari Remote Teaching ke Online Learning! Saya sangat memahami bahwa dalam kondisi terpaksa para dosen dan praktisi pelatihan sudah mengupayakan yang terbaik dengan melakukan Remote Teaching seperti yang dijelaskan ke depan. Sekarang mari kita mempelajari lebih lanjut Online Learning yang sesungguhnya. Pahami bahwa ada proses dasar desain yang perlu diikuti, dan ada begitu banyak fitur dari Online Learning yang perlu kita kembangkan. Penggunaan proses desain yang runtut, pemanfaatan kekayaan dan keragaman metode online adalah hal-hal yang perlu kita kembangkan selanjutnya. Keadaan sekarang memaksa kita untuk mulai icip-icip Remote Teaching. Silakan dlanjutkan dengan menu utama yaitu pengajaran dengan Online Learning yang lebih mendasar, berbobot dan menyeluruh. Selamat ber-Online Learning!

Pengarang

Harijanto Tjahjono, S.Psi., Ed.D.

  • harijanto@staff.ubaya.ac.id
  • Dosen di Fakultas Psikologi Universitas Surabaya
  • Direktur Pusat Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Universitas Surabaya
  • Kepala Tim Pengembangan Online Learning Universitas Surabaya
  • Memperoleh gelar Sarjana Psikologi (S.Psi). di Universitas Surabaya, Master of Education (Ed.M.) dan Doctor of Education (Ed.D) di Boston University.